Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Meluruskan Makna “Najd” dalam Hadis: Mengapa Banyak Ulama Menafsirkannya sebagai Irak

 Meluruskan Makna “Najd” dalam Hadis: Mengapa Banyak Ulama Menafsirkannya sebagai Irak



Dirakum oleh : Sutrisno Bachtiar Yusuf dari berbagai sumber terpercaya dan bisa di validasi. 

Saya cantumkan juga salah satu sumber rujukan dari kalangan Ulama NU ( Nahdatul Ulama ) agar anakan Syi'ah mulutnya bisa ngerem dari mangap-mangap teriak Wahabi.

Istilah Najd kerap menjadi perdebatan di tengah umat Islam. Sebagian orang memahaminya secara geografis semata sebagai “dataran tinggi”, lalu mengaitkannya dengan wilayah tertentu di Jazirah Arab.

 Namun, jika kita kembali pada metode para ulama hadis klasik, pemahaman seperti ini justru terlalu sempit dan berpotensi menyesatkan.

Secara bahasa, najd memang berarti **tanah tinggi. Akan tetapi, hadis Nabi ﷺ tidak selalu dimaksudkan secara harfiah geografis, melainkan sering kali kontekstual—berkaitan dengan arah, pengaruh, dan pusat munculnya fitnah.

Rasulullah ﷺ—Muhammad—dalam beberapa hadis sahih menyebutkan bahwa fitnah dan guncangan iman akan muncul dari arah Najd, bahkan dikaitkan dengan “tanduk setan”.

 Pernyataan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mencela suatu daerah semata, melainkan memberi peringatan tentang pusat munculnya ideologi sesat, pemberontakan, dan kekacauan akidah.

Mengapa Banyak Ulama Menyebut Najd = Irak?

Banyak ulama Ahlus Sunnah klasik seperti Imam Nawawi, Al-Khaththabi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa:

Arah Najd dari Madinah adalah ke timur

Wilayah timur Madinah pada masa Nabi ﷺ adalah Irak

Dan Irak pada sejarah awal Islam memang menjadi pusat fitnah besar.

Dari sanalah muncul:

Kelompok Khawarij,

Fitnah politik besar pasca wafatnya para sahabat utama,

Gerakan ekstrem yang mengkafirkan sesama Muslim,

Dan pertumpahan darah atas nama agama.

Semua itu terjadi di wilayah Irak dan sekitarnya, bukan di Madinah, Makkah, atau wilayah Hijaz.

Karena itu, penafsiran Najd sebagai Irak bukanlah pendapat sembarangan, melainkan hasil analisis historis, geografis, dan hadis yang matang.

Kesalahan Umum dalam Memahami Hadis Najd

Kesalahan terbesar hari ini adalah memotong hadis dari konteks sejarahnya, lalu menggunakannya untuk:

Menuduh kelompok tertentu,

Menyerang negara tertentu,

Atau membangun kebencian antar sesama Muslim.

Padahal, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk menunjuk wilayah secara politis, melainkan mewaspadai pola fitnah: ekstremisme, takfir, dan kekerasan yang dibungkus agama.

Pelajaran Penting bagi Umat Hari Ini

Hadis tentang Najd bukan alat untuk saling menyesatkan, tetapi peringatan agar umat Islam menjauhi sikap keras, sempit, dan mudah mengkafirkan.

Ketika kita melihat:

Fanatisme berlebihan,

Kebencian atas nama tauhid,

Penghalalan darah sesama Muslim,

maka di situlah ruh fitnah Najd hadir—di mana pun lokasinya.

Memahami hadis bukan sekadar membaca teks, tetapi menyelami maksud Nabi ﷺ dengan ilmu dan adab. Mayoritas ulama yang lurus menafsirkan Najd sebagai Irak dalam konteks sejarah fitnah, bukan untuk mencela suatu bangsa, melainkan agar umat Islam belajar dari sejarah dan tidak mengulanginya.

Karena sejatinya, fitnah bukan soal tempat—melainkan soal hati dan pemikiran.



Lebih baru Lebih lama
Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Formulir Kontak