Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Sepuluh Tahun Nafkah, Jangan Dikufuri oleh Bakso Sepuluh Ribu

Sepuluh Tahun Nafkah, Jangan Dikufuri oleh Bakso Sepuluh Ribu

Ada suami yang menafkahi istrinya bertahun-tahun.

Ia lelah, ia jatuh, ia bangkit lagi.

Bukan demi pujian, tapi demi amanah.

Namun saat rumah tangga diuji,

semua itu bisa dikalahkan oleh lelaki durjana

yang mentraktir bakso sepuluh ribu di emperan.

Inilah kufur nikmat yang nyata.

Sepuluh tahun nafkah dianggap biasa.

Satu jam perhatian dari luar dianggap istimewa.

Wahai istri,

jika engkau mudah melupakan keringat suamimu hanya karena emosi sesaat,

ketahuilah: Allah tidak menilai dari rasa, tapi dari amanah.

Nafkah halal yang mungkin terasa kurang,

lebih mulia daripada perhatian haram yang terasa manis dari lelaki durjana.

Dan wahai suami,

teruslah berjuang.

Jika manusia mengkufuri pengorbananmu,

Allah mencatatnya sebagai pahala.



Islam memandang rumah tangga sebagai amanah besar yang dibangun di atas hak dan kewajiban. Salah satu kewajiban utama suami adalah menafkahi keluarganya dengan harta yang halal. 

Nafkah bukan hanya persoalan materi, melainkan wujud tanggung jawab, pengorbanan, dan ibadah yang nilainya besar di sisi Allah.

Dalam perjalanan rumah tangga yang panjang, tidak jarang muncul ujian berupa kelelahan batin, kurangnya komunikasi, atau rasa tidak dipahami. 

Pada kondisi seperti ini, manusia bisa lalai menilai nikmat yang telah lama ia terima, lalu mudah terpesona oleh hal-hal kecil yang terasa menyenangkan sesaat. Padahal, perhatian singkat tidak sebanding dengan perjuangan bertahun-tahun yang menopang kehidupan keluarga.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat serius terkait hal ini. Beliau bersabda:

Aku diperlihatkan neraka, dan kebanyakan penghuninya adalah perempuan.”

Para sahabat bertanya, “Apakah karena mereka kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak. Tetapi karena mereka kufur terhadap suaminya dan mengingkari kebaikannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya sepanjang waktu, lalu ia melihat satu hal yang tidak ia sukai, ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar tidak meremehkan nikmat yang besar. 

Yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat—yaitu mengingkari dan tidak mensyukuri kebaikan yang telah diterima, khususnya dari suami yang telah menunaikan kewajibannya.

Seorang istri yang beriman hendaknya melatih hati untuk melihat kebaikan sebelum menuntut kekurangan. 

Nafkah yang halal, meskipun sederhana, adalah nikmat besar yang menjaga kehormatan, keselamatan, dan keberkahan rumah tangga. Mengingkarinya dapat membuka pintu konflik, ketidakpuasan, dan godaan yang merusak.

Di sisi lain, suami pun diperintahkan untuk menunaikan kewajiban nafkah dengan niat yang ikhlas dan disertai akhlak yang baik. Setiap harta yang dikeluarkan untuk keluarga, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai pahala dan menjadi tabungan akhirat.

Allah Ta‘ala berfirman:

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini menegaskan bahwa nafkah adalah amanah yang dimuliakan Allah, dan mensyukurinya adalah bagian dari menjaga keutuhan dan keberkahan rumah tangga.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, mampu menjaga amanah keluarga, dan saling menghargai dalam ketaatan kepada-Nya.

Lebih baru Lebih lama
Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Formulir Kontak