Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Polisi Manhaj!! Ketika Sirine Lebih Keras dari Dalil...Wiw...wiww...wiww totottot tooottt....Awas Razia POLISI MANHAJ!!

Merakyat.my.id- Polisi Manhaj!! Ketika Sirine Lebih Keras dari Dalil...Wiw...wiww...wiww totottot tooottt....Awas Razia POLISI MANHAJ!!



Jaman yang serba canggih modern serta serba digital seperti sekarang ini, profesi makin beragam. Ada konten kreator, food vlogger, motivator dadakan, dan yang belakangan cukup viral di dunia dakwah yaitu POLISI MANHAJ. 

Seragamnya tidak jelas, pangkatnya tidak terdata, tapi kewenangannya terasa luar biasa: menghentikan siapa saja, memeriksa niat, lalu memberi tilang Ahli bid’ah atau surat peringatan kurang Salafi, Tidak begitu Salafi atau Salafi setengah Bid'ah

Uniknya, perilaku seperti POLISI MANHAJ ini bukan warisan Salaf, bukan pula istilah para imam terdahulu. Ia lahir dari kreativitas sebagian oknum yang merasa dirinya dan kelompoknya adalah “versi original”, sementara yang lain dianggap K dan W alias KW, bahkan meski sama-sama mengutip dalil yang sama.

Lebih lucu lagi, kelompok ini sering kali tidak dianggap Salafi oleh kelompok Salafi lainnya. Ibarat saling klaim STNK, tapi tidak ada yang terdaftar di Samsat.

Fenomena ini menarik: masing-masing mengaku paling lurus, paling sunnah, paling sesuai manhaj. Tapi anehnya, makin banyak klaim, makin ramai perpecahan. 

Yang satu men-tahdzir yang lain, yang lain membalas dengan versi PDF yang lebih tebal. Akhirnya umat bingung: ini dakwah atau turnamen siapa paling cepat menyebut menyimpang?


Padahal, para Salaf dahulu dikenal sangat hati-hati. Mereka sibuk memperbaiki diri, bukan sibuk patroli akidah orang lain. Jika hari ini manhaj lebih sering dipakai sebagai pentungan daripada petunjuk, jangan heran kalau yang tersisa hanyalah kebisingan, bukan hidayah.


Seorang ulama Ahlus Sunnah yang dikenal tegas namun adil, yaitu ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahulloh, pernah memberikan peringatan yang sederhana tapi menohok:


Salah satu ciri firqah sesat dan menyimpang adalah suka berpecah-belah.”

Kalimat ini seharusnya membuat sebagian POLISI MANHAJ mematikan sirine sejenak dan bercermin. 


Sebab, jika setiap perbedaan kecil berujung perpecahan besar, bisa jadi masalahnya bukan pada orang lain—melainkan pada cara memahami dan mengamalkan manhaj itu sendiri.


Melihat si Fulan ketemu si Ahlul Bid'ah langsung si Fulan di kasih tilang kartu Bid'ah, melihat si Fulan foto bareng dengan si anu langsung di vonis si Fulan Ahlul Bid'ah ahlul Syubhat jauhi, tinggalkan jangan ambil ilmunya  dll.


Menasehati itu ibadah. Mengoreksi itu perlu. Tapi ketika dakwah terasa seperti razia dadakan penuh kecurigaan, minim senyum, dan selalu siap menilang maka yang lari bukan bid’ahnya, tapi jamaahnya esensi dakwhnya dan kewarasan pada dirinya.


Manhaj Salaf bukan tentang siapa paling keras, paling cepat memberi label, atau paling rajin membuat daftar hitam serampangan. Tapi gunakanlah ilmu  dan adab. Jika semua merasa sebagai “penjaga pintu surga”, dikhawatirkan pintu hati justru tertutup rapat.


Setau saya ahlul Bid'ah itu yang melakukan Bid'ah secara terus menerus bukan hanya sekedar ketemu lalu langsung di vonis ahlul Bid'ah, hanya sekedar di mintai foto langsung di sebut sekelompok dll.


Eh...saya sendiri juga kena tilang sama POLISI MANHAJ katanya dapat kartu ahlul Syubhat...hahaha...


Editor: Sutrisno Bachtiar Yusuf

Lebih baru Lebih lama
Menyajikan berita dan kabar terbaru sesuai fakta

Formulir Kontak